Ekonomi Bisnis

Respon Laporan PPATK Soal Pelajar Rentan Paparan Pinjol dan Judol, BI Kaltim Luncurkan Modul Literasi Keuangan



Kepala Perwakilan Bank Indoensia Kaltim, Budi Widihartanto. (selasar/yoghy)
Kepala Perwakilan Bank Indoensia Kaltim, Budi Widihartanto. (selasar/yoghy)

HEADLINENUSANTARA.COM, Samarinda - Masih rendahnya literasi keuangan di kalangan pelajar kembali menjadi sorotan setelah Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), mengungkap banyak anak muda usia 24 tahun ke bawah terpapar risiko keuangan digital. Kasus yang ditemukan mulai dari pinjaman daring, judi online, hingga penipuan berbasis teknologi.

Menanggapi kondisi tersebut, Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Timur meluncurkan tiga modul buku ajar untuk meningkatkan literasi keuangan pelajar, masing‑masing bertajuk Cinta, Bangga, Paham Rupiah; Kebanksentralan; dan Digitalisasi Sistem Pembayaran. “Buku ajar ini kami tujukan untuk siswa SMA dan SMK di Kalimantan Timur sebagai inovasi untuk meningkatkan literasi keuangan,” ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kaltim, Budi Widihartanto.

Peluncuran ini merupakan hasil kolaborasi BI Kaltim dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kaltim serta Balai Guru dan Tenaga Kependidikan dari seluruh kabupaten/kota. “Penyusunan modul ini kami lakukan melalui diskusi bersama selama delapan bulan, dan alhamdulillah hari ini resmi diluncurkan,” kata Budi.

Secara teknis, modul dapat diintegrasikan sebagai bahan ajar pada mata pelajaran IPS, khususnya ekonomi, akuntansi, dan perbankan. “SMA dan SMK pada dasarnya menggunakan modul yang sama karena materinya bersifat umum. Submateri kami sesuaikan dengan kemampuan siswa, dengan masukan dari para guru,” jelasnya.

Menurut Budi, sasaran program ini mencakup seluruh SMA dan SMK di Kaltim. Distribusi modul ditopang oleh surat edaran Dinas Pendidikan kepada satuan pendidikan. “Dengan dukungan Disdikbud, modul ajar ini akan digunakan di seluruh wilayah,” ujarnya.

Ia menambahkan, penguatan literasi keuangan di kalangan pelajar mendesak mengingat tingginya kerentanan anak muda terhadap risiko keuangan digital. “Kami menerima informasi dari PPATK bahwa banyak anak muda usia 24 tahun ke bawah terpapar pinjaman daring, judi online, hingga penipuan digital. Karena itu kami melibatkan guru agar materi literasi ini bisa disampaikan efektif kepada siswa,” tutur Budi.

Modul dirancang untuk membantu siswa mengenali risiko, memahami langkah mitigasi, dan lebih berhati‑hati dalam ekosistem pembayaran digital. “Ini bagian dari upaya Bank Indonesia memperkuat perlindungan kepada masyarakat,” kata Budi.

Ke depan, BI Kaltim berencana memperluas sasaran ke tingkat SMP. Sambil berjalan, edukasi literasi keuangan tetap diberikan lintas jenjang dan komunitas, mulai dari PAUD, TK, SD hingga masyarakat umum, baik melalui kunjungan ke kantor BI maupun kegiatan di sekolah. “Peran tenaga pendidik itu sangat penting, karena mereka garda depan dalam membentuk pemahaman siswa,” pungkasnya.

Penulis: Yoghy Irfan
Editor: Awan

Bank Indonesia Kaltim  Pemprov Kaltim  Pertemuan Bank Indonesia Kaltim  Ekonomi kaltim  BI Kaltim  modul literasi keuangan  

Berita Lainnya